Contoh Makalah tentang Aliran-aliran dalam Islam


BAB I
PENDAHULUAN


  1. LATAR BELAKANG MASALAH


Dalam sejarah agama Islam telah tercatat adanya firqah-firqah (golongan) di lingkungan umat Islam, yang antara satu sama lain bertentangan pahamnya secara tajam yang sulit untuk diperdamaikan, apalagi untuk dipersatukan.
Hal ini sudah menjadi fakta dalam sejarah yang tidak bisa dirubah lagi, dan sudah menjadi ilmu pengetahuan yang termaktub dalam kitab-kitab agama, terutama dalam kitab-kitab ushuluddin.
Barang siapa yang membaca kitab-kitab ushuluddin akan menjumpai didalamnya perkataan-perkataan: Syiah, Khawarij, Qodariah, Jabariah, Sunny (Ahlussunnah Wal Jamaaah), Asy-Ariah, Maturidiah, dan lain-lain.
Umat Islam, khususnya yang berpengetahuan agama tidak heran melihat membaca hal ini karena Nabi Muhammad SAW sudah juga mengabarkan pada masa hidup beliau.
Untuk itu dalam makalah ini penulis hendak membahas tentang salah satu jenis firqah diatas, yaitu golongan Maturidiyah. Makalah ini membahas tentang seluk-beluk aliran Maturidiyah yang menjadi salah satu pegangan kaum Ahlussunnah Wal Jamaah.


  1. RUMUSAN MASALAH
  1. Bagaimana sejarah berdirinya aliran Maturidiyah?
  2. Bagaimanakah tahapan yang dilalui dalam penyebaran Firqah Maturidiyah?
  3. Apa isi ajaran aliran Maturidiyah?
  4. Apa saja sekte-sekte yang ada dalam Maturidiyah?
  5. Bagaimanakah persamaan dan perbedaan antara aliran Maturidiah dengan aliran Asyariyah sehingga bisa dijadikan patokan dalam Ahlussunnah Wal Jamaah?
  6. Bagaimanakah hubungan aliran Maturidiyah dan Asyariah dalam Ahlussunnah Wal Jamaah?
  7. Bagaimana pula perbedaan I’itiqad antara aliran Maturidiyah sebagai Ahlussunnah Wal Jamaah dengan aliran selain Ahlussunnah Wal Jamaah?


  1. TUJUAN PENULISAN
  1. Mengetahui sejarah berdirinya aliran Maturidiyah.
  2. Mengetahui tahapan yang dilalui dalam penyebaran Firqah Maturidiyah.
  3. Mengetahui isi ajaran aliran Maturidiyah.
  4. Mengetahui sekte-sekte yang ada dalam Maturidiyah.
  5. Mengetahui persamaan dan perbedaan antara aliran Maturidiah dengan aliran Asyariyah sehingga bisa dijadikan patokan dalam Ahlussunnah Wal Jamaah.
  6. Mengetahui hubungan aliran Maturidiyah dan Asyariyah dalam Ahlussunnah Wal Jamaah.
  7. Mengetahui perbedaan I’itiqad antara aliran Maturidiyah sebagai Ahlussunnah Wal Jamaah dengan aliran selain Ahlussunnah Wal Jamaah






  1. MANFAAT PENULISAN
  1. Penulis dapat mengetahui mengenai isi aliran Maturidiyah.
  2. Pembaca dapat menambah wawasannya mengenai aliaran Maturidiyah.
  3. Memberikan pencerahan pada pembaca mengenai firqah Islam yang sesuai dan benar.




























































BAB II
PEMBAHASAN


  1. Sejarah berdirinya aliran Maturidiyah
Dalam buku Teologi Islam, Aliran-aliran Sejarah Analisa perbandingan (Harun Nasution, 76) menyebutkan bahwa Abu Manshur Muhammad Ibn Muhammad Ibn Mahmud al-Maturudi lahir di Samarkand pada pertengahan ke dua dari abad ke sembilan Masehi dan meninggal di tahun 944 M. Tidak banyak diketahui mengenai riwayat hidupnya. Ia adalah pengikut Abu Hanifah dan paham-paham teologinya banyak persamaannya dengan paham-paham yang dimajukan Abu Hanifah. Sistem pemikiran teologi yang ditimbulkan Abu Mansur termasuk dalam golongan teologi ahli sunnah dan dikenal dengan al-Maturidiah.
A
Imam Abu Abu Mansyur Al-Maturidi




Bandar Samarqand di Uzbekistan
tempat kelahiran Imam Abu Mansur Al-Maturidi







bu Mansur al-Maturidi mencari ilmu pada pertiga terakhir dari abad ke tiga Hijrah, di mana aliran Mu’tazilah sudah mengalami kemundurannya, dan di antara gurunya adalah Nasr bin Yahya al-Balakhi (wafat 268 H). Negeri Samarkand pada saat itu merupakan tempat diskusi dalam ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh. Diskusi di bidang Fiqh berlangsung antara pendukung mazhab Hanafi dan pendukung mazhab Syafi’i.




Selain itu, aliran Maturidiyah merupakan salah satu dari sekte Ahl al-Sunnah wal al-Jama’ah yang tampil bersama dengan Asy’ariah. Kedua aliran ini datang untuk memenuhi kebutuhan mendesak yang menyerukan untuk menyelamatkan diri dari ekstrimitas kaum rasionalis di mana yang berada di barisan paling depan adalah Mu’tazilah, maupun ekstrimitas kaum tekstualis di mana yang berada di barisan paling depan adalah kaum Hanabillah (para pengikut Imam Ibnu Hambal). Pada awalnya antara kedua aliran ini (Maturidiyah dan Asy’ariyah) dipisahkan oleh jarak: aliran Asy’ariyah di Irak dan Syam (Suriah) kemudian meluas ke Mesir, sedangkan aliran Maturidiyah di Samarkand dan di daerah-daerah di seberang sungai (Oxus-pen). Kedua aliran ini bisa hidup dalam lingkungan yang kompleks dan membentuk satu mazhab. Nampak jelas bahwa perbedaan sudut pandang mengenai masalah-masalah Fiqh kedua aliran ini merupakan faktor pendorong untuk berlomba dan survive. Orang-orang Hanafiah (para pengikut Imam Hanafi) membentengi aliran Maturidiyah, dan para pengikut Imam al-Syafi’I dan Imam al-Malik mendukung kaum Asy’ariyah.
Memang aliran Asy’ariyah lebih dulu menentang paham-paham dari aliran Mu’tazilah. Seperti yang kita ketahui, al-Maturidi lahir dan hidup di tengah-tengah iklim keagamaan yang penuh dengan pertentangan pendapat antara Mu’tazilah (aliran teologi yang amat mementingkan akal dan dalam memahami ajaran agama) dan Asy’ariyah (aliran yang menerima rasional dan dalil wahyu) sekitar masalah kemampuan akal manusia. Maka dari itu, Al-Maturidi melibatkan diri dalam pertentangan itu dengan mengajukan pemikiran sendiri. Pemikirannya itu merupakan jalan tengah antara aliran Mu’tazilah dan Asy’ariyah. Kerana itu juga, aliran Maturiyah sering disebut “berada antara teologi Mu’tazilah dan Asy’ariyah”.
Salah satu pengikut penting dari al-Maturidi adalah Abu al-Yusr Muhammad al-Bazdawi (421-493 H). Nenek al-Bazdawi adalah murid dari al-Maturidi, dan al-Bazdawi mengetahui ajaran-ajaran al-Maturidi dari orang tuanya. Al-bazdawi sendiri mempunyai murid-murid dan salah seorang dari mereka ialah Najm al-Din Muhammad al-Nasafi (460-537 H).
Walaupun konsep pemikiran al-Bazdawi bersumber dari pemikiran al-Maturudi, tapi terdapat pemikiran-pemikiran al-Bazdawi yang tidak sefaham dengan al-Maturudi. Antara ke dua pemuka aliran Maturidiyah ini, terdapat perbedaan faham sehingga boleh dikatakan bahwa dalam aliran Maturidiyah terdapat dua golongan: golongan Samarkand yaitu pengikut-pengikut al-Maturidi sendiri, dan golongan Bukhara yaitu pengikut-pengikut al-Bazdawi.
Dari paparan mengenai sejarah di atas, di sini para penulis beropini bahwa aliran Maturidiyah merupakan aliran dari sekte Ahl al-Sunnah wal al-Jama’ah yang pada mulanya aliran ini berakar dari pemikiran Abu Mansur al-Maturidi. Beranjak dari pemikiran-pemikiran al-Maturidi ini lah aliran ini berkembang. Sehingga pengikut aliran ini disebut aliran Maturudiyah yang diambil dari nama pendirinya sendiri.
Pada mulanya, aliran ini masih teguh pada satu kiblat yakni pemikiran-pemikiran dari pendirinya (al-Maturidi). Namun jauh setelah al-Maturidi meninggal, yakni cucu dari salah seorang murid al-Maturidi, al-Bazdawi memberikan pemahaman yang bertentangan dengan pemikiran-pemikiran al-Maturidi. Sehingga banyak hal-hal yang berbeda dalam konsep ajaran yang diberikan oleh pendirinya dengan pemikiran al-Bazdawi itu sendiri. Maka dengan adanya perbedaan-perbedaan tersebut, aliran Maturidiyah terpecah menjadi dua golongan besar yaitu pengikut setia al-Maturidi yang akhirnya disebut Maturidiyah Samarkand dan pengikut al-Bazdawi yang disebut dengan Maturidiyah Bukhara.
  1. TAHAPAN YANG DILALUI FIRQAH MATURIDIYAH
Ada 3 tahapan yang harus dilalui firqah Maturidiyah dalam mengembangkan firqah ini yaitu:
Tahapan pertama, tahapan pendirian (ta`sis) dengan tokohnya Abu Manshur al Maturidi. Dia sempat menulis beberapa kitab. Kitab-kitab tersebut ialah:
Dalam bidang Usul Fiqh :
i) Ma’akhizh As-Syarai’
ii) Kitab Al-Jadal fi Usul Al-Fiqh
Dalam bidang Ilmu Kalam :
i) Kitab At-Tauhid
ii) Kitab Al-Maqalat
iii) Kitab Al-Rad ‘Ala Usul Al-Qaramitoh
iv) Kitab Al-Rad ‘Ala Furu’ Al-Qaramithoh
v) Bayanul Wahmu Al-Mu’tazilah
vi) Raddul Usul Al-Khamsah Li Abi Muhammad Al-Bahili
vii) Raddu Awailu Adillah Lil Ka’bi
viii) Raddu Kitabu Wa’id Al-Fussaq Lil Ka’bi
ix) Raddu Tahzib Al-Jadal Lil Ka’bi
x) Raddu Kitab Al-Imamah Liba’di Al-Rawafidh
Dalam bidang Ulum Al-Quran
i) Kitab Tafsir Ta’wilat Ahlus Sunnah
ii) Risalatu Fi Ma La Yajuz Al-Waqfu ‘Alaihi Fil Quran
Dalam bidang Al-Quran ialah kitab Tafsir Ta’wilat Ahlus Sunnah.
Yang paling terkenal ialah Kitabut Tauhid. Dalam kitab ini, ia menetapkan aqidah tauhid melalui teori-teori ilmu kalam (baca: filsafat). Yang ia maksud dengan tauhid adalah tauhid rububiyyah, tauhid khaliqiyyah, dan sedikit tentang asma wa shifat. Hanya saja, manhaj yang ia pegangi adalah manhaj Jahmiyyah. Sehingga, ada sekian banyak sifat yang ia mentahkan dengan dalih ingin menghindarkan diri dari tasybih (penyerupaan) Allah dengan makhlukNya.
Tahapan Kedua, tahapan pembentukan (takwin). Yaitu ditandai dengan tersebarnya paham ini di Samarqand melalui tulisan-tulisan yang disisipkan dalam kitab-kitab fiqih madzhab Hanafi. Sehingga aqidah Maturidiyah ini menjadi diterima dan dominan di tengah masyarakat. Tokohnya yang terkenal pada saat itu ialah Abul Qasim al Hakim.
Tahapan berikutnya merupakan perpanjangan dari fase sebelumnya, dengan tokohnya yaitu Abul Yusr Muhammad bin Muhammad bin al Husain bin ‘Abdil Karim (421-493 H). Dia mendapatkan tempaan ilmu filsafat dari sang ayah yang merupakan murid Abu Manshur al Maturidi. Disamping itu, ia banyak menelaah buku-buku karya al Kindi, al Juba-i, an Nazhzham dan lainnya. Buku-buku karya tokoh-tokoh ini sarat dengan ajaran filsafat.
Tahapan berikutnya, yaitu fase penulisan dan pembukuan aqidah Maturidiyyah (500-700 H). Tahapan ini banyak dipenuhi dengan penulisan karya tulis yang berisi berbagai dalil untuk memberikan justifikasi atas aqidah Maturidiyyah. Panutan dalam marhalah ini adalah Najmuddin an Nasafi. Seratus kitab telah ia tulis. Ia adalah penulis kitab Aqidah an Nasfiyyah, sebuah kitab ringkasan yang merangkum aqidah Maturidiyah.
Tokoh Maturidiyah yang terkenal pada abad ini ialah Muhammad bin Zahid al Kautsari al Maturidi. Ia sangat mendiskreditkan para imam kaum muslimin dan mencerca mereka yang tidak sehaluan dengan aqidah Maturidiyah. Kitab-kitab tauhid, seperti al Ibanah, asy Syariah, al ‘Uluw, Asma wa Shifat karya al Baihaqi, dan kitab-kitab aqidah karya ulama Ahli Sunnah dianggap sebagai kitab-kitab watsaniyyah (paganisme), tajsim dan tasybih. Padahal, tak syak lagi, aliran Maturidiyah justru dipenuhi dengan bid’ah yang mewarnai ajarannya. Misalnya, mereka mengagungkan kuburan dan penghuninya dengan dalih bertawasul.
  1. Isi Ajaran Aliran Maturidiyah
Sebelum kita memahami konsep ajaran dari aliran Maturidiyah sebelum terpecah menjadi dua golongan, kita harus tahu konsep pemikiran al-Maturudi terlebih dahulu yakni kewajiban ma’rifah terhadap Allah Swt. mungkin di temukan berdasarkan penalaran akal, sebagaimana Allah Swt. telah memerintahkan untuk melakukan penalaran dalam sejumlah ayat Al-Qur’an. Allah Swt. memerintahkan kepada manusia untuk berpikir mengenai kerajaan langit dan bumi dan memberikan pengarahan kepada manusia bahwa sekira akal pikiran diarahkan secara konsisten, terlepas dari hawa nafsu dan taklid. Sesuai dengan firman Allah Swt. berikut:
                 
Artinya:
”Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al-Jaatsiyah, 45: 13)
Maka dari itu, al-Maturudi memberikan kontribusi pemikirannya kurang lebih tiga ajaran yakni:
  1. Mengenai sifat-sifat Allah Swt.
Mengenai sifat-sifat Allah Swt., aliran Asy’ariyah mengatakan sifat-sifat Allah Swt. itu merupakan sesuatu yang berada di luar Dzat. Mereka juga menetapkan adanya qudrah, iradah,’ ilm, bayah, sama’, basher dan kalam pada Dzat Allah Swt. Kata mereka, semua itu merupakan sesuatu di luar Dzat-Nya. Mu’tazilah mengatakan bahwa tidak ada sesuatu di luar Dzat-Nya. Adapun yang disebutkan dalam Al-Qur’an, seperti:’Alim(Maha mengetahui), Khabir(Maha mengenal), Hakim(Maha bijaksana), Bashir(Maha melihat), merupakan nama-nama bagi Dzat Allah Swt. Kemudian al-Maturidi menetapkan sifat-sifat itu bagi Allah Swt., tetapi ia mengatakan bahwa sifat-sifat itu bukanlah sesuatu di luar Dzat-Nya, bukan pula sifat-sifat yang berdiri pada Dzat-Nya dan tidak pula terpisah dari Dzat-Nya.
Al-Maturidi juga menerima segala sesuatu yang disifatkan Allah Swt. kepada diri-Nya sendiri, baik berupa sifat maupun keadaan. Sekalipun demikian, ia menetapkan bahwa Allah Maha Suci dari antropomorfisme (menyerupai bentuk manusia) dan dari mengambil ruang dan waktu. Terhadap ayat-ayat yang mengandung makna sifat-sifat, seperti pernyataan bahwa Allah Swt. mempunyai wajah, tangan, mata dan lainnya, maka al-Maturidi berdiri pada posisi penta’wil dan berjalan di atas prinsipnya, yaitu membawa ayat-ayat yang mutasyabih kepada yang muhkam. Misalnya, ia menginterpretasikan firman Allah Swt.:
…     . . .
Artinya: “Lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy….”(QS. Al-A’raf, 7:54)
Ia menafsirkan dengan makna alternatif, yaitu bahwa Allah Swt. menuju ‘Arsy dan menciptakannya dalam keadaan rata, lurus dan teratur.
Menurut pendapat kami al-Maturidi dalam memahami sifat-siafat Allah Swt. hampir sependapat dengan aliran Mu’tazilah, yang mengatakan bahwa antara Dzat dan sifat-sifat Allah itu tidak terpisah. Sehingga dalam hal ini, jelas al-Maturidi lebih dekat dengan aliran Mu’tazilah.
  1. Melihat Allah Swt.
Ada beberapa nash Al-Qur’an yang menegaskan bahwa Allah Swt. dapat dilihat, seperti firtman Allah:
       
Artinya: “ Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (QS. Al-Qiyamah, 75: 22-23)
Berdasarkan firman tersebut, al-Maturidi menetapkan bahwa Allah dapat dilihat pada hari kiamat. Ini dikarenakan pada hari kiamat itu merupakan salah satu keadaan khusus.
Maka dari itu para penulis juga setuju dengan pendapat al-Maturidi di atas, apalagi diperkuat dengan firman Allah Swt. Surah Al-Qiyamah: 22-23, karena menurut pendapat kami pada hari kiamat manusia akan berjumpa atau melihat Allah Swt. (bagi orang-orang yang beriman). Namun dalam hal sifat dan bagaimana bentuk Allah Swt., hanya Dialah yang mengetahui, sebagaimana kita tidak mengetahui kapan terjadinya hari kiamat.
  1. Pelaku dosa besar
Al-Maturidi mengatakan bahwa orang mu’min yang berdosa adalah menyerahkan persoalan mereka kepada Allah Swt. Jika Allah Swt. menghendaki maka Dia mengampuni mereka sebagai karunia, kebaikkan dan rahmat-Nya. Sebaliknya, jika Allah Swt. menghendaki, maka Dia menyiksa mereka sesuai dengan kadar dosa mereka. Dengan demikian, orang mu’min berada di antara harapan dan kecemasan. Allah boleh saja menghukum dosa kecil dan mengampuni dosa besar, sebagaimana Dia telah berfirman:
                     
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’, 4: 48)
Setelah Maturidiyah terpecah menjadi dua bagian, yakni aliran Samarkand dan Bukhara, ajaran aliran maturidiyah mengalami perbedaan dan ada juga yang sama di antara ke dua aliran ini, yakni sebagai-berikut:
  • Mengenai pelaku dosa besar
Aliran Maturidiyah, baik Samarkand maupun Bukhara, sepakat menyatakan bahwa pelaku dosa besar masih tetap sebagai mukmin karena adanya keimana dalam dirinya. Adapun balasan yang diperolehnya kelak diakherat bergantung apa yang dilakukannya di dunia. Jika ia meninggal tanpa taubat terlebih dahulu, keputusannya diserahkan sepenuhnya kepada kehendak Allah SWT. Jika menghendaki pelaku dosa besar itu diampuni, ia akan memasukkannya keneraka, tetapi tidak kekal didalamnya.
Hal ini karena Tuhan telah menjanjikan akan memberikan balasan kepada manusia sesuai dengan perbuatannya. Kekal di dalam neraka adalah balasan untuk orang musyrik. Ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an Surrah An-Nissa’:48.
                     
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”


  • Mengenai iman dan kufur
Dalam masalah iman, aliran Maturidiyah Samarkand berpendapat bahwa iman adalah tashdiq bi al-qalb, bukan semata-mata iqrar bi al-lisan. Ia berargumentasi dengan ayat Al-Qur’an surat Al-hujurat 14:
                               
Artinya: “orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi Katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat, 49: 14)
Ayat tersebut di pahami Al-Maturidi sebagai suatu penegasan bahwa keimanan itu tidak cukup hanya perkataan semata, tanpa diimani pula oleh kalbu. Apa yang di ucapkan oleh lidah dalam bentuk pernyataan iman, menjadi batal bila hati tidak mengakui ucapan lidah.
Maturidiyah Bukhara mengembangkan pendapat yang berbeda. Al-Bazdawi menyatakan bahwa iman tidak dapat berkurang, tidak bisa bertambah dengan adanya ibadah-ibadah yang dilakukan. Al-Bazdawi menegaskan hal tersebut dengan membuat analogi bahwa ibadah-ibadah yang dilakukan berfungsi sebagai bayangan dari iman. Jika bayangan itu hilang, esnsi yang digambarkan oleh bayangan itu tidak akan berkurang. Sebaliknya, dengan kehadiran baying-bayang (ibadah) itu, iman justru menjadi bertambah.
  1. Mengenai perbuatan Tuhan dan perbuatan manusia.
  • Mengenai perbuatan Tuhan.
Mengenai perbuatan Allah SWT. ini, terdapat perbedaan pandangan antara Maturidiyah Samarkad dan Maturidiyah Bukhara. Aliran Maturidiyah Samarkad, yang juga memberikan batas pada kekuasaan dan kehendak mutlak tuhan, pendapat bahwa perbuatan Tuhan hanya menyangkut hal-hal yang baik saja. Demikian juga pengiriman rasul dipandang Maturidiyah Samarkand sebagai kewajiban Tuhan.
Maturidiyah Bukhara memiliki pandangan yang sama dengan Asy’ariyah mengenai faham bahwa Tuhan tidak mempunyai kewajiban. Namun, sebagaimana yang dijelaskan oleh Bazdawi, Tuhan pasti menempati janji-Nya, seperti memberi upah kepada orang yang berbuat baik, walaupun Tuhan mungkin saja membatalkan ancaman bagi orang yang berdosa besar.  Adapun pandangan Maturidiyah Bukhara tentang pengiriman rasul, sesuai dengan faham mereka tentang kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, tidaklah bersifat wajib dan hanya bersifat mungkin saja.
  • Mengenai perbuatan Manusia.
Ada perbedaan antara Maturidiyah Samarkand dan Maturidiyah Bukharah mengenai perbuatan manusia. Kehendak dan daya berbuat pada diri manusia, menurut Maturidiyah Samarkand, adalah kehendak dan daya manusia dalam arti kata sebenarnya dan bukan dalam arti kiasan, maksudnya daya untuk berbuat tidak diciptakan sebelumnya, tetapi bersama-sama dengan perbuatannya. Sedangkan Maturidiyah Bukharah memberikan tambahan dalam masalah daya. Manusia tidak mempunyai daya untuk melakukan perbuatan, hanya Tuhanlah yang dapat mencipta, dan manusia hanya dapat melakukan perbuatan yang telah diciptakan Tuhan bagi-Nya.  
  1. Mengenai sifat-sifat Tuhan
Maturidiyah Bukhara berpendapat Tuhan tidaklah mempunyai sifat-sifat jasmani. Ayat-ayat Al-Qur’an yang menggambarkan Tuhan mempunyai sifat-sifat jasmani haruslah diberi ta’wil.
Sedangkan golongan Samarkand mengatakan bahwa sifat bukanlah Tuhan, tetapi tidak lain dari Tuhan. Dalam menghadapi ayat-ayat yang memberi gambaran Tuhan bersifat dengan menghadapi jasmani ini. Al-Maturidi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tangan, muka, mata, dan kaki adalah kekuasaan Tuhan.


  1. Mengenai kehendak mutlak Tuhan dan keadilan Tuhan
Kehendak mutlak Tuhan, menurut Maturidiyah Samarkand, dibatasi oleh keadilan Tuhan. Tuhan adil mengandung arti bahwa segala perbuatannya adalah baik dan tidak mampu untuk berbuat buruk serta tidak mengabaikan kewajiban-kewajiban-Nya terhadap manusia. Adapun Maturidiyah Bukhara berpendapat bahwa Tuhan memiliki kekuasaan mutlak. Tuhan berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya dan menentukan segala-galanya. Tidak ada yang menentang atau memaksa Tuhan dan tidak ada larangan bagi Tuhan.
  • Pengutusan Rasul
Pengutusan Rasul berfungsi sebagai sumber informasi, tanpa mengikuti ajaran wahyu yang disampaikan oleh rasul berarti manusia telah membebankan sesuatu yang berada di luar kemampuan akalnya. Pandangan ini tidak jauh dengan pandangan Mu’tazilah, yaitu bahwa pengutusan rasul kepada umat adalah kewajiban Tuhan agar manusia dapat berbuat baik bahkan terbaik dalam hidupnya.
  • Akal dan Wahyu
Al-Maturidi dalam pemikiran teologinya berdasarkan pada Al-Qur’an dan akal, akal banyak digunakan diantaranya karena dipengaruhi oleh Mazhab Imam Abu Hanifah. Menurut Al-Maturidi, mengetahui Tuhan dan kewajiban mengetahui Tuhan dapat diketahui dengan akal. Hal tersebut sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan agar manusia menggunakan akalnya untuk memperoleh pengetahuan dan keimanannya terhadapAllah melalui pengamatan dan pemikiran yang mendalam tentang makhluk ciptaan-Nya. Jika akal tidak memiliki kemampuan tersebut, maka tentunya Allah tidak akan memerintahkan manusia untuk melakukannya. Dan orang yang tidak mau menggunakan akal untuk memperoleh iman dan pengetahuan mengenai Allah berarti ia telah meninggalkan kewajiban yang diperintahkan oleh ayat-ayat tersebut Namun akal, menurut Al-Maturidi tidak mampu mengetahui kewajiban-kewajiban yang lain.
Dalam masalah amalan baik dan buruk, beliau berpendapat bahwa penentu baik dan buruknya sesuatu itu terletak pada sesuatu itu sendiri, sedangkan perintah atau larangan syari’ah hanyalah mengikuti kemampuan akal mengenai baik dan buruknya sesuatu, walau ia mengakui bahwa akal terkadang tidak mampu melakukannya. Dalam kondisi ini, wahyu dijadikan sebagai pembimbing.
Al-Maturidi membagi kaitan sesuatu dengan akal pada tiga macam, yaitu :
Akal dengan sendirinya hanya mengetahui kebaikan sesuatu itu,
Akal dengan sendirinya hanya mengetahui keburukan sesuatu itu,
Akal tidak mengetahui kebaikan dan keburukan sesuatu, kecuali dengan petunjuk wahyu.
Tentang mengetahui kebaikan dan keburukan Maturidiyah memiliki kesamaan dengan Mu’tazilah, namun tentang kewajiban melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan Maturidiyah berpendapat bahwa ketentuan itu harus didasarkan pada wahyu.
  1. Kalam Tuhan

Al-Maturidi membedakan antara kalam (baca:sabda) yang tersusun dengan huruf dan bersuara denagn kalam nafsi (sabda yang sebenarnya atau makna abstrak). Kalam nafsi adalah sifat qadim bagi Allah, sedangkan kalam yang tersusun dari huruf dan suara adalah baharu (hadits). Kalam nafsi tidak dapat kita ketahui hakikatnya dari bagaimana Allah bersifat dengannya, kecuali dengan suatu perantara4.

Maturidiyah menerima pendapat Mu’tazilah mengenai Al-qur’an sebagai makhluk Allah, tapi Al-Maturidi lebih suka menyebutnya hadits sebagai pengganti makhluk untuk sebutan Al-Qur’an.

  1. Sekte-sekte atau Aliran-Aliran Maturidiyah
Berdasarkan beberapa referensi yang kami peroleh, aliran Maturidiyah dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu:
  1. Golongan Samarkand.
Yang menjadi golongan ini dalah pengikut Al-maturidi sendiri, golongan ini cenderung ke arah paham mu’tazilah, sebagaimana pendapatnya soal sifat-sifat tuhan, maturidi dan asy’ary terdapat kesamaan pandangan, menurut maturidi, tuhan mempunyai sifat-sifat, tuhan mengetahui bukan dengan zatnya, melainkan dengan pengetahuannya.
Begitu juga tuhan berkuasa dengan zatnya. Mengetahui perbuatan-perbuatan manusia maturidi sependapat dengan golongan mu’tazilah, bahwa manusialah sebenarnya mewujudkan perbuatan-perbutannya. Apabila ditinjau dari sini, maturidi berpaham qadariyah. Maturidi menolak paham-paham mu’tazilah, antara lain maturidiyah tidak sepaham mengenai pendapat mu’tazilah yang mengatakan bahwa al-qur’an itu makhluk. Aliran maturidi juga sepaham dengan mu’tazilah dalam soal al-waid wa al-waid. Bahwa janji dan ancaman tuhan, kelak pasti terjadi. Demikian pula masalah antropomorphisme. Dimana maturidi berpendapat bahwa tangan wajah tuhan, dan sebagainya seperti pengambaran al-qur’an. Mesti diberi arti kiasan (majazi). Dalam hal ini. Maturidi bertolak belakang dengan pendapat asy’ary yang menjelaskan bahwa ayat-ayat yang menggambarkan tuhan mempunyai bentuk jasmani tak dapat diberi interpretasi (ditakwilkan).
  1. Golongan Bukhara.
Golongan Bukhara ini dipimpin oleh Abu Al-yusr Muhammad Al-Bazdawi. Dia merupakan pengikut maturidi yang penting dan penerus yang baik dalam pemikirannya. Nenek Al-Bazdawi menjadi salah satu murid maturidi. Dari orang tuanya, Al-Bazdawi dapat menerima ajaran maturidi. Dengan demikian yang di maksud golongan Bukhara adalah pengikut-pengikut Al-Bazdawi di dalam aliran Al-maturidiyah, yang mempunyai pendapat lebih dekat kepada pendapat-pendapat Al-asy’ary.
Namun walaupun sebagai aliran maturidiyah. Al-Bazdawi tidak selamanya sepaham dengan maturidi. Ajaran-ajaran teologinya banyak dianut oleh sebagin umat Islam yang bermazab Hanafi. Dan pemikiran-pemikiran maturidiya sampai sekarang masih hidup dan berkembang dikalangan umat Islam.
  1. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ANTARA AL-ASY’ARIYAH DAN AL-MATURIDIYAH


  1. PERSAMAANNYA
    1. Kedua aliran ini lahir akibat reaksi terhadap paham aliran Mu’tazilah.
    2. Mengenai sifat-sifat Tuhan, kedua aliran ini menyatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat dan Tuhan mengetahui bukan dengan dzat-Nya tetapi mengetahui dengan pengetahuan-Nya.
    3. Keduanya menentang ajaran Mu’tazilah mengenai al-Salah wal Aslah dan beranggapan bahwa al-Qur’an adalah kalam Tuhan yang tidak diciptakan, tetapi bersifat qadim.
    4. Al-Asy’ari dan Al-Maturidi juga berkeyakinan bahwa manusia dapat melihat Allah pada hari kiamat dengan petunjuk Tuhan dan hanya Allah pula yang tahu bagaimana keadaan sifat dan wujud-Nya. Hal ini mengingat nash al-Qur’an pada surat al-Qiyamah : 23 :
Wajah-wajah orang mukmin pada hari kiamat akan berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat.”
    1. Persamaan dari kedua aliran ini adalah karena keduanya sering menggunakan istilah ahlu sunnah wal jama’ah. Dan dikalangan mereka kebanyakan mengatakan bahwa madzhab salaf ahlu sunnah wal jama’ah adalah apa yang dikatakan oleh Al-Asy’ari dan Al-Maturidi. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa ahlu sunnah wal jama’ah adalah Asy’ariyah dan Maturidiyah dan salaf. Az-Zubaidi mengatakan : “Jika dikatakan ahlu sunnah, maka yang dimaksud dengan mereka itu adalah Asy’ariyah dan Maturidiyah.”(Ittihafus Sadatil Muttaqin 2 : 6)
Penulis Ar-Raudhatul Bahiyyah mengatakan : “Ketahuilah bahwa pokok semua aqaid ahlu sunnah wal jama’ah atas dasar ucapan dua kutub, yakni Al-Asy’ari dan Al-Maturidi.”(Ar-Raudhatul Bahiyyah oleh Abi Hudibah hal.3)
  1. PERBEDAANNYA
    1. Tentang perbuatan manusia. Al-Asy’ari menganut paham Jabariyah sedangkan Al-Maturidi menganut paham Jabariyah.
    2. Tentang fungsi akal. Akal bagi aliran Asy’ariyah tidak mampu untuk mengetahui kewajiban-kewajiban manusia sedangkan menurut pendapat Maturidiyah akal dapat mengetahui kewajiban-kewajiban manusia untuk berterima kasih kepada Tuhan.
    3. Tentang Janji dan ancaman Tuhan. Al-Asy’ari berkeyakinan bahwa Allah bisa saja menyiksa orang yang taat, memberi pahala kepada orang yang durhaka, sedangkan Al-Maturidi beranggapan lain, bahwa orang yang taat akan mendapatkan pahala sedangkan orang yang durhaka akan mendapat siksa, karena Allah tidak akan salah karena Ia Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.
  1. ASY’ARIYAH, MATURIDIYAH DAN ISTILAH AHLUS SUNNAH
Asy’ariyah dan Maturidhiyah banyak menggunakan istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah ini, dan di kalangan mereka kebanyakan mengatakan bahwa madzhab salaf “Ahlus Sunnah wa Jama’ah” adalah apa yang dikatakan oleh Abul Hasan Al-Asy’ari dan Abu Manshur Al-Maturidi. Sebagian dari mereka mengatakan Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu As’ariyah, Maturidiyah dan Madzhab Salaf.
Az-Zubaidi mengatakan : “Jika dikatakan Ahlus Sunnah, maka yang dimaksud dengan mereka itu adalah Asy’ariyah dan Maturidiyah”. .
Penulis Ar-Raudhatul Bahiyyah mengatakan : “Ketahuilah bahwa pokok semua aqaid Ahlus Sunnah wal Jama’ah atas dasar ucapan dua kutub, yakni Abul Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur Al-Maturidi”.


Al-Ayji mengatakan : “Adapun Al-Firqotun Najiyah yang terpilih adalah orang-orang yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang mereka : “Mereka itu adalah orang-orang yang berada di atas apa yang Aku dan para shahabatku berada diatasnya”. Mereka itu adalah Asy’ariyah dan Salaf dari kalangan Ahli Hadits dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah”.


Hasan Ayyub mengatakan : “Ahlus Sunnah adalah Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansyur Al-Maturidi dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka berdua. Mereka berjalan di atas petunjuk Salafus Shalih dalam memahami aqaid”.


Pada umumnya mereka mengatakan aqidah Asy’ariyah dan Maturidiyah berdasarkan madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Disini tidak bermaksud mempermasalahkan pengakuan bathil ini. Tetapi hendak menyebutkan dua kesimpulan dalam masalah ini.
Bahwa pemakaian istilah ini oleh pengikut Asy’ariyah dan Maturidiyah dan orang-orang yang terpengaruh oleh mereka sedikitpun tidak dapat merubah hakikat kebid’ahan dan kesesatan mereka dari Manhaj Salafus Shalih dalam banyak sebab.
Bahwa penggunaan mereka terhadap istilah ini tidak menghalangi kita untuk menggunakan dan menamakan diri dengan istilah ini menurut syar’i dan yang digunakan oleh para Ulama Salaf. Tidak ada aib dan cercaan bagi yang menggunakan istilah ini. Sedangkan yang diaibkan adalah jika bertentangan dengan i’tiqad dan madzhab Salafus Shalih dalam pokok apapun
  1. Perbedaan I’itiqad antara aliran Maturidiyah sebagai Ahlussunnah Wal Jamaah dengan aliran selain Ahlussunnah Wal Jamaah

Terdapat beberapa perbedaan antara ajaran Ahlussunnah(termasuk Maturidiyah) dengan selain Ahlussunnah. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada table dibawah ini:

I’itiqad Ahlussunnah Wal Jamaah
I’itiqad firqah Syi’ah
Kalifah yang pertama Sayyidina Abu Bakar, kedua Sayyidina Umar, ketiga Sayyidina Utsman bin Affan Rda,
Ketiga-tiganya terkutuk karena merampas kholifah dari Sayyidina Ali Kw. Imam yang pertama ialah Sayyidina Ali Kw.
Kholifah boleh diangkat dengan musyawarah Ahlul halli wal ‘aqdi
Imam harus ditunjuk oleh nabi Muhammad SAW melalui wasiat
Kholifah orang biasa, tidak ma’shum dan tidak menerima wahyu
Kholifah masih menerima wahyu dan juga ma’shum
Tidak mempercayai adanya kholifah ghaib
Percaya akan adanya kholifah ghaib yang akan keluar akhir zaman
Kepercayaan kepada kholifah bukan rukun iman
Percaya kepada imam adalah salah satu rukun iman
Kitab kedua adalah kitab hadits Bukhari
Kitab yang kedua adalah Al Kafi karangan Ya’qub al kullni
Mus-haf yang sah ialah mus-haf Utsman
Mus-haf yang sah ialah mus-haf ‘Ali
Arti “Ahlu Bait” ialah famili-famili, termasuk isteri Nabi
Arti “Ahli Bait” hanyalah keturunan ‘Ali dengan Siti Fatimah Rda
Tidak menganut faham “Wahdatul Wujud” (serba Tuhan)
Menganut faham “Wahdatul Wujud” (serba Tuhan)
Islam sudah cukup pada waktu Nabi Muhamad SAW wafat.
Islam belum cukup ketika itu karena masih ada wahyu-wahyu Ilahi untuk Imam-Imam Syi’ah
“Taqiyah” bukan rukun iman
“Taqiyah” juga salah satu rukun iman
Raj’ah (kembali ke dunia setelah mati) tidak ada
Mempercayai adanya Raj’ah(kembali ke dunia setelah mati)

I’itiqad Ahlussunnah Wal Jamaah
I’itiqad firqah Khawarij
Khalifah ‘Ali Kw. Sah sesudah “tahkim’
Khalifah ‘Ali Kw. Tidak sah sesudah “tahkim’
Siti ‘Aisyah Rda. adalah Ummul Mu’minin yang dihormati sampai wafatnya.
Siti ‘Aisyah terkutuk sebab melakukan “peperangan Jamal” melawan ‘Ali Kw.
Sekalian orang yang membantahnya belum tentu kafir
Sekalian yang membantahnya adalah kafir, halal darahnya
Ibadat bukan rukun iman
Ibadat rukun iman
Ada dosa kecil dan ada dosa besar
Sekalian dosa, adalah besar tak ada yang kecil atau yang besar
Anak-anak orang kafir mati kecil tidak masuk neraka
Anak-anak orang kafir mati kecil masuk neraka

I’itiqad Ahlussunnah Wal Jamaah
I’itiqad firqah Murjiah
Rukun iman ada 6
Rukun iman hanya mengenal Allah dan Rasul-rasulnya
Berbuat dosa haram walaupun sudah beriman
Berbuat dosa tak apa-apa kalau sudah mengenal Allah dan Rasul-rasulnya
Orang yang bersalah harus dihukum di dunia ini
Orang yang bersalah harus ditangguhkan sampai kemuka Tuhan

I’itiqad Ahlussunnah Wal Jamaah
I’itiqad firqah Mu’tazilah
Buruk dan baik ditentukan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul
Buruk dan baik ditentukan oleh akal manusia
Al-Qur’an dan hadits diatas akal
Al-Qur’an dan hadits dibawah akal
Al-Qur’an Kalam Allah yang Qadim
Al-Qur’an adalah makhluk sama dengan makhluk yang banyak
Tuhan boleh dilihat apalagi dalam surga
Tuhan tidak bisa dan tidak boleh dilihat walaupun dalam surga
Mi’raj Nabi dengan roh dan tubuh
Mi’raj Nabi dengan tubuh dan roh tidak masuk akal. Mi’raj hanya mimpi
Pekerjaan manusia dijadikan oleh Tuhan
Pekerjaan manusia dijadikan oleh manusia
‘Arsy dan Kursi ada
‘Arsy dan Kursi tidak ada
Ada malaikat Kiraman Katibin(Malaikat Raqib dan ‘Atid)
Malaikat Kiraman Katibin (Malaikat Raqib dan ‘Atid) tidak ada
Surga dan neraka kekal selama-lamanya
Surga dan neraka tidak kekal
Timbangan di Akhirat ada
Timbangan di Akhirat tidak ada
Hisab di Akhirat ada
Hisab di Akhirat tidak ada
Titian Shirathal Mustaqim ada
Titian Shirathal Mustaqim tidak ada
Syafa’at ada
Syafa’at tidak ada
Siksa kubur ada
Siksa kubur tidak ada
Tuhan tidak diwajibkan membuat yang baik atau yang lebih baik
Tuhan wajib (mesti) membuat yang baik dan yang lebih baik
Tuhan mempunyai sifat
Tuhan tidak mempunyai sifat. Ia mendengar dengan Dzat-Nya dan Ia melihat dengan Dzat-Nya
Ada mukjizat Nabi Muhammad SAW selain Al-Qur’an seperti air keluar dari anak jari beliau
Tidak ada mukjizat Nabi selain Al-Qur’an
Keramat-keramat Wali ada dan orang-orang saleh juga ada
Keramat-keramat tidak ada
Menjauhkan diri dari mencaci maki sahabat-sahabat Nabi
Lancing mulut mencaci maki sahabat-sahabat Nabi yang dianggapnya berbuat salah
Orang mukmin yang wafat dalam membuat dosa besar bukan kafir dan tidak kekal dalam neraka
Orang mukmin yang wafat dalam membuat dosa besar adalah kafir dan kekal dalam neraka
Tidak ada tempat yang lain di Akhirat selain surga dan neraka
Ada tempat yang lain di Akhirat selain surga dan neraka yang dinamakan “Manzilah Bainal Manzilatain” (tempat diantara 2 tempat)
Surga dan neraka sudah tersedia dari sekarang
Surga dan neraka belum tersedia dari sekarang

I’itiqad Ahlussunnah Wal Jamaah
I’itiqad firqah Qadariah
Perbuatan manusia dijadikan oleh tuhan
Perbuatan manusia dijadikan oleh manusia

I’itiqad Ahlussunnah Wal Jamaah
I’itiqad firqah Qadariah
Ada ikhtiar atau usaha dari manusia
Tidak ada ikhtiar atau usaha dari manusia, semianya dari Tuhan
Imam harus diakui dalam hati dan di-Ikrarkan dengan lisan
Iman cukup dalam hati saja






















BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN :

  • Tahapan yang dilalui dalam penyebaran Firqah Maturidiyah adalah:

  • Tahapan pertama, tahapan pendirian (ta`sis) dengan tokohnya Abu Manshur al Maturidi.

  • Tahapan Kedua, tahapan pembentukan (takwin). Yaitu ditandai dengan tersebarnya paham ini di Samarqand melalui tulisan-tulisan yang disisipkan dalam kitab-kitab fiqih madzhab Hanafi. Selanjutnya perpanjangan dari fase sebelumnya, dengan tokohnya yaitu Abul Yusr Muhammad bin Muhammad bin al Husain bin ‘Abdil Karim (421-493 H).

  • Tahapan berikutnya, yaitu fase penulisan dan pembukuan aqidah Maturidiyyah (500-700 H).


  • Isi ajaran aliran Maturidiyah:
  • Mengenai sifat-sifat Allah Swt.
Al-Maturidi menetapkan sifat qudrah, iradah,’ ilm, bayah, sama’, basher dan kalam itu bagi Allah Swt., tetapi mereka mengatakan bahwa sifat-sifat itu bukanlah sesuatu di luar Dzat-Nya, bukan pula sifat-sifat yang berdiri pada Dzat-Nya dan tidak pula terpisah dari Dzat-Nya.
  • Melihat Allah Swt.
al-Maturidi menetapkan bahwa Allah dapat dilihat pada hari kiamat. Ini dikarenakan pada hari kiamat itu merupakan salah satu keadaan khusus.
  • Pelaku dosa besar
Al-Maturidi mengatakan bahwa orang mu’min yang berdosa adalah menyerahkan persoalan mereka kepada Allah Swt.
  • Mengenai perbuatan Tuhan dan perbuatan manusia.
    1. Mengenai perbuatan Tuhan.
Maturidiyah Samarkand berpendapat bahwa perbuatan Tuhan hanya menyangkut hal-hal yang baik saja. Sedangkan Maturidiyah Bukhara memiliki pandangan bahwa Tuhan tidak mempunyai kewajiban. Namun, sebagaimana yang dijelaskan oleh Bazdawi, Tuhan pasti menempati janji-Nya, seperti memberi upah kepada orang yang berbuat baik, walaupun Tuhan mungkin saja membatalkan ancaman bagi orang yang berdosa besar. 
    1. Mengenai perbuatan Manusia.
Menurut Maturidiyah Samarkand kehendak dan daya manusia untuk berbuat tidak diciptakan sebelumnya, tetapi bersama-sama dengan perbuatannya. Sedangkan menurut Maturidiyah Bukharah kehendak dan daya berbuat pada diri manusia tidak mempunyai daya untuk melakukan perbuatan, hanya Tuhanlah yang dapat mencipta, dan manusia hanya dapat melakukan perbuatan yang telah diciptakan Tuhan bagi-Nya  
  • Mengenai sifat-sifat Tuhan
Maturidiyah Bukhara berpendapat Tuhan tidaklah mempunyai sifat-sifat jasmani. Sedangkan golongan Samarkand mengatakan bahwa sifat bukanlah Tuhan, tetapi tidak lain dari Tuhan.
  • Mengenai kehendak mutlak Tuhan dan keadilan Tuhan
    1. Pengutusan Rasul
Pengutusan Rasul berfungsi sebagai sumber informasi
    1. Akal dan Wahyu
Menurut Al-Maturidi, mengetahui Tuhan dan kewajiban mengetahui Tuhan dapat diketahui dengan akal sedangkan perintah atau larangan syari’ah hanyalah mengikuti kemampuan akal mengenai baik dan buruknya sesuatu, walau ia mengakui bahwa akal terkadang tidak mampu melakukannya. Dalam kondisi ini, wahyu dijadikan sebagai pembimbing.
  • Kalam Tuhan

Al-Maturidi membedakan antara kalam (baca:sabda) yang tersusun dengan huruf dan bersuara denagn kalam nafsi (sabda yang sebenarnya atau makna abstrak).

  • Sekte-sekte atau Aliran-Aliran Maturidiyah
    • Golongan Samarkand.
    • Golongan Bukhara.


SARAN
  1. Sebagai siswa yang memegang faham Ahlussunnah Wal Jamaah kita harus dapat mengamalkan ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah yang dirumuskan Imam Mayuridy dan Imam Asy-Ari dengan baik dan benar.
  2. Siswa hendaknya dapat meneladani sosok imam Maturidy.
  3. Jangan mudah percaya dengan aliran sesat yang banyak bermunculan belakangan ini.


















DAFTAR PUSTAKA

Asmuni, M. Yusran.1993. Ilmu Tauhid.Jakarta: Raja Grafindo Persada
Http://www.almanhaj.or.id/content/2723/slash/0 (Diunduh pada kamis, 25 November 2010 pukul 15.20 WIB)
Assmin, Yudian Wahyu. 2004. Aliran dan Teori Filsafat Islam Jakarta: Bumi Aksara
http://blog.re.or.id/ahlus-sunnah-wal-jamaah.htm (diunduh pada minggu, 28 November 2010)
Dahlan, Abd. Rahman dan Ahmad Qarib. 1996. Aliran Politik dan ‘Aqidah dalam IslamJakarta: Logos Publishing House
Departemen Agama Republik Indonesia.2005. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: J-ART
Hanafi, A.2003. Pengantar Teologi Islam.Jakarta: Pustaka Al Husna Baru Jakarta
Jauhari, Heri. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah . Bandung :Pustaka Setia,
Nasution, Harun. 1986.Teoli Islam, Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Jakarta: UI-Press
Rozak , Abdul dan Rosihon Anwar. 2000. Ilmu Kalam. Bandung: Pustaka Setia
http://ummatanwasatan.net/?p=5362 (diunduh pada 10 Juni 2010)






Previous
Next Post »