Sunday, February 26, 2012

Pemanfaatan Lahan Nganggur, Meningkatkan Ekonomi Mengurangi Emisi Gas

Program mitigasi emisi gas karbondioksida (CO2) dengan penanaman pohon berbatang keras sebanyak – banyaknya    perlu disambut positif oleh seluruh masyarakat, khususnya masyarakat di Kabupaten Pati, karena  dengan menanam pohon berbatang keras sebanyak – banyaknya diharapkan udara di Kabupaten Pati terbebas dari polusi dan dampak pemanasan global dapat diminimalkan.
Pati merupakan kabupaten dengan tanah yang relatif subur sehingga banyak dari jenis tanaman pertanian, perkebunan, hutan, dan tanaman hias dapat tumbuh denagn baik. Tetapi lahan tidur atau lahan yang belum digarap secara maksmal masih sangat banyak terutama yang ada di Desa Kuryokalangan, Gabus, Pati dan desa sekitarnya.
Desa Kuryokalanaan memiliki luas 252,152 Ha, luas perkampungan 63 Ha dengan luas lahan kosong 6,25 Ha. Hasil sensus 2010 menunjukkan bahwa jumlah rumah 765 buah dengan jumlah penduduk 2.903 jiwa. Lahan yang kosong adalah lahan – lahan yang belum digarap ataupun sudah digarap tetapi belum maksimal, yang meliputi lahan pekarangan rumah dan lahan – lahan yang hanya ditumbuhi tanaman bambu, rumput, dan semak. Selain tidak produktif, lahan yang dibiarkan menganggur tersebut akan tampak kotor dan kumuh.
Hal tersebut membuat beberapa masyarakat Desa Kuryokalangan yang peduli dengan lingkungan tergerak untuk memberikan bibit jambu air citra kepada masyarakat secara gratis walaupun jumlahnya terbatas dan memberikan penyuluhan tentang jambu air citra juga secara gratis. Mereka berharap dapat membantu masyarakat Desa Kuryokalangan dan sekitarnya untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan hidup. Selain itu, mereka juga berharap agar lingkungan Desa kuryokalangan menjadi hijau, bersih dari polusi dan produktif
Salah satu masyarakat yang peduli kepada lingkungan tersebut adalah bapak Abdul Kalim, S. Pd. I, MM. Beliau adalah seorang pekebun jambu air citra Desa Kuryokalangan serta Kepala MA Abadiyah Gabus. “Lahan kosong di Desa Kuryokalangan ini masih cukup luas. Padahal kalau masyarakat mau, dengan asumsi 1 rumah 2 tanaman jambu air citra, berarti di Kuryokalangan ada 1.530 pohon, ditambah tiap hektare 225 pohon x 6,25 Ha = 1.406 pohon sehingga Kuryokalangan nantinya ada 2.936 pohon. Jumlah yang cukup untuk membuat lingkungan menjadi hijau dan menyerap emisi CO2 di Desa Kuryokalangan karena menurut para peneliti lingkungann, sebuah pohon dapat menyerap kurang lebih 1 ton emisi gas CO2 . Jadi bila ada 2.936 pohon, maka emisi yang dapat diserap lebih kurang 2.936 ton. Tetapi saat ini baru ada 225 pohon jambu air citra dan pohon lainnya sehingga masih memerlukan benih sebanyak 2.711 buah,” tutur beliau saat diwawancarai di kantornya ( Senin, 28 Maret 2011 )
“ kepedulian dan dukungan dari masyarakat Kuryokalangan dan pemerintah desa sangat dibutuhkan agar kegiatan pemanfaatan lahan nganggur ini dapat berhasil dan sukses. Dengan begitu, diharapkan udara di Kuryokalangan menjadi segar bebas polusi dan dapat mengurangi laju peningkatan suhu bumi yang rata -rata sudah naik 20 C karena adanya peningkatan gas rumah kaca, serta dapat menjaga ketersediaan sumber air tanah  warga Kuryokalangan,” imbuhnya.
Pohon Jambu Air Citra di Kebun Bapak Abdul Kalim
Alasan beliau memilih jambu air citra dibandingkan tanaman lainnya ialah karena buah yang ditemukan oleh DR. Reza Tirtawinata (ahli riset dari Kebun Mekarsari Ciliengsi bogor) ini dapat menjadi tanaman peneduh dan memiliki buah yang besar, yaitu sebesar gelas air mineral 240 ml, sedikit air namun segar, tanpa biji, dan rasanya manis yang membuat jambu air citra memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Harga jambu air citra kategori Great A (super, kualitas ekspor) pada Mei 2009 telah mencapai Rp 70. 000, 00/ Kg. Sedangkan menurut berita dari Radar Semarang tertanggal 17 Juni 2008, salah seorang pekebun dari Desa Betokan Demak, bernama Karmono menuturkan bahwa pohon jambu delima rata – rata menghasilkan uang sekitar Rp 400.000,00 – Rp 600.000,00/ pohon. Sedangkan jambu air citra rata – rata menghasilkan Rp 500.000,00 – Rp 1.000.000,00/ pohon. Untuk jambu delima dihargai Rp 200,00 – Rp 400,00/ biji dan jambu air citra dihargai Rp 750,00 – Rp 1.250,00/ biji.
“Untuk menikmati buah jambu air citra yang ditanam sendiri tidak memerlukan waktu yang lama, asal dirawat dan dipelihara dengnn baik. Bila bibitnya dari hasil sambung pucuk / temple tinggi 75 – 100 cm maksimal 2,5 tahun tinggi pohon bisa mencapai 3 meter bahkan kalau yang kita tanam hasil dari cangkokan bisa berbuah pada umur 1 – 1,5 tahun,” ujar pak Abdul Kalim lagi.
Dampak penanaman jambu air citra pada lingkungan sudah mulai dirasakan bermanfaat oleh masyarakat. Seorang warga bernama Agus Sya’roni (RT 02 / RW 03, Kuryokalangan), yang diwawancarai ( Selasa, 29 Maret 2011 ) mengatakan bahwa semenjak penanaman jambu air citra di lahan kosong samping rumahnya, udara didalam rumah menjadi sejuk dan segar sehingga ia tak perlu lagi menyalakan kipas angin. Jadi ia dapat menghemat penggunaan listrik dirumahnya. Seorang warga lain bernama Suyono (RT 01 / RW 03 ) yang juga diwawancarai ( Selasa, 29 Maret 2011 )  berkata,” Sumber mata air di sumur saya sekarang tidak habis – habis walaupun musim kemarau sehingga saya tidak perlu lagi mencari air ke sumur tetangga.”
Buah Jambu Air Citra Sebesar Gelas Air Mineral
Inovasi dan kreativitas masyarakat Kuryokalangan dengan menanam jambu air citra ini perlu didukung oleh pemerintah kabupaten Pati. Dengan dukungan dan penanganan yang maksimal serta sungguh – sungguh, diharapkan 4 – 5 tahun yang akan datang kabupaten pati khususnya daerah kuryokalangan bisa menjadi daerah hijau penyerap emisi CO2 dan menjadi daerah resapan air hujan. Selain itu, diharapkan daerah Kuryokalangan bisa menjadi sentra buah khususnya buah jambu air citra yang bernilai ekonomi tinggi. Karena produksi dari pekebun di Indonesia produksinya masih terbatas, terbukti jambu air citra baru memenuhi pasar – pasar swalayan dan masih jarang dipasar bisaa apalagi dipasar tradisional.
“ Seluruh warga Pati, marilah kita kembangkan program – program yang tidak hanya berwawasan ekonomi saja, tetapi juga berwawasan lingkungan agar Pati Bumi Mina Tani yang menjadi semboyan Kabupateen Pati benar – benar terwujud.” Tegas pak Abdul Kalim. ( Arifin )              
   


EmoticonEmoticon